بسم الله الرحمن الرحيم 

Sejak bubarnya Partai Islam Masyumi 1960, umat islam di gelanggang politik semakin terpinggirkan. Perolehan kursi DPR RI oleh Partai-Partai Islam, dari Pemilu ke Pemilu sesudahnya, tidak pernah menyamai perolehan di tahun 1955,  sebesar 43,73 persen dari jumlah kursi yang ada  dan menempatkan Partai Masyumi sebagai pemenang ke dua (20,92 persen) setelah Partai Nasionalis Indonesia (PNI).

Kekalahan Partai Islam di setiap Pemilu itu, telah berdampak besar terhadap arah pembangunan bangsa dan  Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketuhanan “Yang Maha Esa”, sebagai pengganti tujuh kata “dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemelukpemeluknya” dalam Piagam Jakarta, tidak secara sungguh-sungguh dijadikan dasar bagi pembangunan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan nasional.  Islam dan Umat Islam tidak mendapat tempat secara wajar dan proporsional dalam pembangunan bangsa. Sebaliknya, gagasan-gagasan yang berseberangan dengan nilai-nilai Islam justru mendapat tempat. Islam phobia tumbuh kian subur, persis seperti masa-masa penjajah Portugis dan Belanda, di mana Islam dan Ummat Islam dicuriagai dan dibatasi ruang geraknya.  

Kondisi ekonomi bangsa sangat timpang, baik dari sisi pendapatan maupun penguasaan aset-aset ekonomi. Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya yang secara konstitusi seharusnya dikuasai oleh negara dan  dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat ternyata hanya dinikmati sekelompok orang tertentu. Ummat Islam –meski merupakan warga mayoritas dan yang paling bertanggung jawab terhadap lahirnya bangsa Indonesia ini, hanya menguasai 12 persen perekonomian Indonesia dan itu terbatas pada  mengelola ekonomi mikro. 

Hasil Pemilu 2019 menunjukkan posisi umat Islam yang semakin tersingkir.  Jika saja PKB, PKS, PAN dan PPP bisa dianggap mewakili aspirasi Islam, maka total perolehan partai-partai itu hanya 171 dari 575 kursi yang ada (atau hanya 29,7 per sen), turun 4 kursi dari pemilu 2014. Atau berkurang 14,03 persen dari hasil pemilu tahun 1955. Dengan komposisi yang demikian, nasib Umat Islam dan Dakwah Islamiyah di masa datang dapat dibayangkan akan menghadapi hari-hari yang sulit.

Bila berpatokan pada persentase penduduk Muslim Indonesia 87-an per sen dan total perolehan kursi partai Islam 29,7 per sen, berarti ada lebih dari 57 (dari 87-an) persen umat islam memilih partai sekuler. Artinya, hanya sepertiga dari total Umat Islam Indonesia yang memilih Partai Islam. Ini menunjukkan bahwa Gerakan Dakwah Islamiyah di Indonesia kurang berhasil, perlu segera diatasi dengan membangun satu gerakan dakwah yang konprehensif.

Rendahnya dukungan umat terhadap Partai-Partai Islam membuktikan bahwa sebahagian besar (57 dari 87 persen) Umat Islam  menilai Partai-Partai Islam yang ada belum merupakan tempat yang baik untuk menyaluran asprisai mereka. Partai Islam yang ada dinilai tidak berbeda nyata dengan partai-partai sekuler. Di lain pihak, partai-partai Islam terkesan saling berebut konstituen yang sama dengan menjadikan partai Islam lainnya sebagai musuh.  Sangat kurang upaya merebut suara 57 (dari 87) persen umat Islam yang memilih partai sekuler itu.

Di saat seperti sekarang ini  –di mana Partai-Partai Islam tidak mampu menjadi penyalur aspirasi mayoritas Umat Islam, ditambah pula dengan menguatnya ideologi nasionalis sekuler dan komunis di Indonesia– keberadaan partai pelanjut perjuangan Masyumi menjadi sangat penting dan mendesak. Oleh karena itu sejumlah Ulama, para Pimpinan Ormas, Cerdik Pandai dan Tokoh Pergerakan Islam setelah melakukan Musyawarah pada pada 27 Juli 2019 dan dilanjutkan pada tanggal  17 September   2019,  membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Partai Islam Ideologis (BPU-PPII) dengan Ketua KH. Ahmad Cholil Ridwan LC, Wakil Ketua Dr. Masri Sitanggang dan Sekretaris Dr. Taufik Hidayat. Badan ini bertugas melakukan penyidikan untuk memastikan apakah kehadiran Partai Islam Ideologis memang dibutuhkan oleh Umat Islam. Sebagai pelaksana teknis, menyiapkan segala sesuatu yang bersifat teknis, BPU-PPII mengamanahkan kepada Dr. Masri Sitanggang untuk membentuk Panitia Persiapan Pendirian Partai Islam Ideologis (P-4II –dibaca Pe-empat sebelas).

MASYUMI YANG DIIDAMKAN

Partai MASYUMI yang diidamkan ialah yang dapat memenuhi maksud tujuan Gerakan Dakwah Politik dalam rangka menghadapi situasi kekinian, yakni Partai Perjuangan ideology Islam yang merupakan Milik Umat yang Berpengaruh, Kuat dan Besar. Lima Karakter yang menjadi landasan gerak perjuangan MASYUMI ini menjadi satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Setiap kader partai harus memahami bahwa seluruh aktivitas yang dilakukan, baik pribadi maupun kolektif kepartaian, harus mendasarkan dan berorientasi pada Lima Karakter tersebut. 

Partai Perjuangan Ideologi Islam. Ini dimaksudkan untuk mempertegas Islam sebagai landasan gerak, semangat dan tujuan perjuangan Partai MASYUMI, sebagai ciri yang membedakan MASYUMI dari partai-partai lain. MASYUMI adalah sarana perjuangan menegakkan kalimah Allah, sarana dalam melaksanakan Jihad fi sabilillah. MASYUMI untuk bertarung secara ideology dengan Partai-partai sekuler dan yang bertentangan dengan Islam.  MASYUMI harus memiliki kader-kader yang punya semangat dan kualitas  bertarung yang tangguh, pantang menyerah menghadapi segala resiko hingga terwujudnya Islam Rahmatan lil ‘alamin.  

Amanah yang di emban MASYUMI besar, berat tetapi sangat mulia. Besar, karena partai ini bermaksud tidak hanya mewujudkan kehidupan hasanah di dunia tetapi juga mewujudkan kondisi yang memungkinkan tercapainya kehidupan yang hasanah di akhirat. Berat, bukan saja karena partai ini akan berhadapan secara diametral dengan partai-partai besar dan mapan yang berseberangan ideologi, tetapi juga karena secara internal masyarakat Islam sendiri masih sangat memerlukan upaya memahamkan Islam sebagaiRahmatan lil ‘alamin.Mulia, sebab dengan mewujudkan Islam sebagai Rahmatan lil ‘alamin,  berarti partai MASYUMI berjuang menegakkan sistem tatanan kehidupan Islam, yang adalah merupakan misi utama diutusnya Rasulullah SAW oleh Alllah SWT, sebagaimana firman-Nya QS 9:33 dan QS 61:9

 هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ  ٣٣

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS  9:33)

Masyumi menjadi sebuah sarana untuk menunaikan tugas Jihad fi sabilillah, sebuah tugas mulia yang akan diganjar Allah dengan berbagai kehormatan sebagaimana yang digambarkan dalam  QS 61: 10-12

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ هَلۡ أَدُلُّكُمۡ عَلَىٰ تِجَٰرَةٖ تُنجِيكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ  ١٠ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ  ١١ يَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡ وَيُدۡخِلۡكُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةٗ فِي جَنَّٰتِ عَدۡنٖۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ  ١٢

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.”( QS 61: 10-12)

Milik Umat. Partai MASYUMI bukan milik perorangan, sekelompok orang atau pengurus partai. Pengurus MASYUMI menempatkan diri sebagai pekerja Ummat Islam dalam melaksanakan tugas-tugas dakwah politik. Ummat Islam harus bisa merasakan dan meyakini betul bahwa MASYUMI adalah milik bersama ummat Islam, rumah bagi semua komponen Ummat Islam, wadah penyaluran dan perjuangan aspirasi Ummat Islam yang perlu dijaga dan dibela.

Bahwa MASYUMI adalah milik Umat Islam tergambar dari personal pengurus organisasi dan garis perjuangan partai. Personal  Majelis Syuro adalah representasi dari pimpinan-pimpinan Ormas Islam yang terlibat aktif mendirikan MASYUMI  atau Ormas Islam yang memberikan dukungan politiknya kepda MASYUMI dan tokoh-tokoh pergerakan Islam.  Demikian juga eksekutif Partai MASYUMI, dari pusat sampai daerah, merupakan representasi dari ormas-oramas pendiri MASYUMI dan tokoh-­tokoh pergerakan Islam.

Organisasi partai MASYUMI merupakan bagian tak terpisahkan dari Gerakan Dakwah Islamiyah. MASYUMI menempatkan diri sebagai bagian dari Organisasi (Politik) Ummat Islam dalam melaksanakan tugas-tugas dakwah politik. MASYUMI dan Ormas-Ormas Islam (pendiri) memiliki tanggungjawab bersama dalam membangun organisasi sampai ke tingkat terendah; sehingga di mana ada ormas Islam (pendiri), diharapkan di situ ada MASYUMI dan sebaliknya, dimana ada MASYUMI diharapkan di situ berdiri ormas Islam (pendiri).

Garis Perjuangan Partai dan hal-hal yang bersifat strategis-ideologis adalah menjadi kewenangan Majelis Syuro (yang merupakan representasi dari pimpinan ormas Islam pendiri MASYUMI dan tokoh pergerakan Islam). Pengurus MASYUMI menempatkan diri sebagai pelaksana tugas-tugas dakwah politik yang diembankan oleh Majelis Syuro.

Berpengaruh. Diharapkan setiap langkah, sikap, lontaran gagasan atau ide MASYUMI mendapat respon positif dari masyarakat atau memberi dampak kepada konstalasi sosial politik di masyarakat. Hal ini harus terwujud sebagai konsekuensi dari partai ideologis milik umat yang ide dan gagasannya adalah resultan dari ide dan gagasan perjuangan ormas-oramas dan tiokoh umat. Dengan demikian, suara MASYUMI adalah suara Umat Islam, suara ormas-ormas Islam, Pendiri MASYUMI dan tokoh-tokoh pergerakan Islam.  Suara MASYUMI akan disambut oleh ormas-ormas Islam dan sebaliknya, suara Ormas-ormas Islam akan di suarakan oleh MASYUMI.

Kuat. Dengan ini  dimaksudkan bahwa partai ini selain didukung oleh masyarakat luas, khususnya ummat Islam melalui ormas-ormasnya, juga didukung oleh sistem yang tepat dan serasi, kader yang cerdas dan solid, kerjasama yang harmonis di setiap level pengurus atau antar kepengurusan. Sistem yang kuat dan serasi menjadi kata kunci bagi kuatnya MASYUMI, sehingga partai ini tifdak mudah dipecah oleh pihak lawan, disusupi atau dibelokkan arah perjuangannya. 

Besar. Berarti Partai MASYUMI harus didukung oleh masyarakat luas. Besarnya MASYUMI  ditandai oleh lengkapnya infra struktur partai ke level terendah, besarnya sayap-sayap organisasi partai serta  besarnya perolehan suara (kursi) pada setiap pemilu. Ini menjadi keniscayaan empat poin terdahulu.

 

SEMBILAN UPAYA STRATEGIS

Untuk mewujudkan keadaan partai seperti yang diidamkan di atas, maka MASYUMI akan melakukan Sembilan upaya strategis, yakni :  

  1. Menumbuhkan, memupuk dan  menggelorakan semangat jihad fi sabilillah  dalam politik dan dakwah di kalangan pengurus dan anggota MASYUMI khususnya, dan masyarakat pada umumnya, sehingga tercipta semangat beribadah dalam melaksanakan tugas-tugas partai, kerja keras dan ikhlas berkorban untuk kepentingan perjuangan, mengutamakan kepentingan ummat dari pada kepentingan pribadi. Setiap pengurus MASYUMI harus menyadari bahwa ia adalah seorang da’i yang bertugas memandu ummat kepada jalan Allah, mujahid yang berjuang di jalan Allah. Misi ini akan diupayakan melalui berbagai pelatihan, diskusi, ceramah di pengajian-pengajian Majelis Ta’lim, broad cast dan penerbitan buku-buku wajib yang menjadi pegangan kader MASYUMI. 
  2. Membangun infrastruktur dan kelengkapan partai hingga ke level pengurus yang terendah. Misi ini secara khusus akan diupayakan bersama-sama dengan ormas Islam pendiri MASYUMI, sehingga di mana ada MASYUMI di situ ada ormas Islam Pendiri MASYUMI dan sebaliknya.  
  3. Membangun, menjaga dan meningkat komunikasi efektif sesame para pengurus di level yang sama  dan dengan  level bawah, baik melalui surat, telepon, media social  atau kunjungan langsung sehingga tercipta hubungan yang hangat dan terbangun kerjasama yang kompak.
  4. Menjalin komunikasi dan kerjasama efektif dengan para ulama, tokoh-tokoh ummat dan lembaga-lembaga Islam –terutama ormas Islam pendiri MASYUMI, di level pengurus yang sama untuk menumbuhkan pengertian bersama tentang persoalan-persoalan keumatan dan perjuangan dakwah politik, yang pada gilirannya diharapkan dapat lebih mengefektifkan dakwahj dan saling memperkuat  antara MASYUMI dan Ormas Islam Pendiri MASYUMI. 
  5. Menggerakkan seluruh aparat partai hingga ke level terendah untuk aktif berinteraksi dan terlibat dengan masyarakat, peka terhadap perkembangan lingkungan dan dapat menangkap aspirasi  serta merespon situasi yang berkembang –baik melalui tindakan, ucapan maupun tulisan– dengan memberikan solusi berdasarkan nilai-nilai perjuangan partai sesuai dengan tingkatan kepengurusan dan persoalan yang dihadapi. 
  6. Mempublikasi atau menyebarkan ide/gagasan, pokok-pokok pikiran dan pandangan MASYUMI terhadap persoalan-persoalan kebangsaan dan keumatan melalui berbagai media baik cetak, elektreonik maupun pengajian-pengajian dan diskusi-diskusi. 
  7. Aktif membangun koalisi dan kerjasama dengan partai-partai lain dalam hal kepentingan bersama yang menguntungkan Islam.
  8. Membangun berbagai organisasi dan LSM sayap MASYUMI. Organisasi ini di samping sebagai wadah kader, juga sebagai alat  yang akan bekerja praktis di tengah-tengah masyarakat.
  9. Dan yang tidak kalah pentingnya, adalah mengupayakan adanya sumber dana bagi pembiayaan kegiatan partai di samping pengelolaan dana yang accountable dan transparan dengan semangat jihad bi amwal (jihad dengan harta).

PENUTUP

Kelahiran Partai Islam MASUMI merupakan suatu kebutuhan mendesak dalam rangka menghadapi tantangan Dakwah Islamiyah di Jalur Politik saat ini. Partai MASYUMI yang diidamkan adalah Partai Perjuangan Ideologi, milik ummat, kuat, berpengaruh dan besar. 

Partai MASYUMI seperti yang diidamkan akan dibangun melalui Sembilan Usaha Strategis. Hal ini memerlukan kerja keras yang berkesinambungan yang dilakukan secara bersama-sama antar pengurus dan antar level kepengurusan yang bersifat sistemik serta bangunan jembatan hati antara pengurus.

Akhirnya, segala usaha yang kita akukan kita pulangkan kepada Allah swt sembari mengharapkan janji-Nya yang kita yakini ::

 وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ  ٦٩  

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (QS 29:69)