Resume Acara Silatul Ukhuwah & Urun Rembug Keluarga Besar, Zuriyah dan Pecinta Masyumi

  1. Daftar tamu yang diisi oleh para peserta berjumlah 700 orang, tetapi banyak juga peserta yang tidak mengisi absen, jumlah peserta diluar ekspetasi panitia yang diduga hanya datang sekitar 500 orang.
  2. Acara dimulai lebih awal 15 menit karena sudah penuhnya peserta di ruangan yaitu pukul 09.45
  3. Dalam sambutan Ketua Umum Dewan Da’wah yang dibacakan oleh Wasekum Dewan Da’wah (Ketum Dewan Da’wah sedang bertugas melantik pengurus PW DDII Sulsel disaat yang bersamaan) menceritakan awal terbentuknya Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Partai Islam Ideologis (BPU-PPII) yang melaksanakan acara Silatul Ukhuwah dan Urun Rembug ini. Menurut beliau BPU-PPII merupakan forum yang dibentuk berdasarkan persetujuan Pembina Dewan Da’wah yang memegang domain masalah poitik di Dewan Da’wah. Pada saat itu Ketua Pembina Bpk. Prof. Dr. AM Saefuddin menunjuk dua pimpinan Dewan Da’wah KH. A. Cholil Ridwan sebagai ketua BPU-PPII dan Taufik Hidayat sebagai sekretaris BPU-PPII untuk menyelidiki kemungkinan kemungkinan berdirinya partai Islam yang ideologis dan kaffah. Ketum Mohammad Siddik menyambut baik adanya keinginan mendirikan partai Islam yang ideologis tetapi mengingatkan tentang perlunya cara cara yang ilmiah dan sistematis seperti harus survey dan mengundang para pakar dulu. Harus ditimbang masak masak tentang penggunaan nama Masyumi, Partai Islam Ideologis dll karena masyarakat belum tentu kenal, kemudian dipikirkan juga masalah pendanaan. Sangat perlu diajak ormas ormas Islam yang istiqomah untuk menjajaki segala kemungkinan apalagi masih dalam bentuk kepanitiaan jadi masih bisa “dibongkar pasang”.
  4. Dalam sambutan Ketua Panitia Persiapan Pendirian Partai Islam Ideologis (P-411) yang merupakan pelaksana kerja teknis BPU-PPII, Dr. Masri Sitanggang membacakan tulisan KH. Isa Anshari (Ketua Fraksi Masyumi di Konstituante) yang merupakan permintaan ketua Pembina Dewan Da’wah bpk. Prof. Dr. AM Saefuddin yang sedang berhalangan hadir karena kondisi sakit. Dalam tulisan itu dingatkan tentang jangan sampai para Muballigh/Da’I takut berpolitik seperti zaman belanda dimana belanda menakut nakuti para Muballigh untuk berpolitik dalam rangka untuk penjajahan, oleh sebab itu para muballigh harus rajin membaca dan update situasi politik / literasi politik sehingga bisa memandu umat tentang masalah politik, sebaliknya juga tulisan KH. Isa Anshari mengingatkan jika para muballigh tidak siap berpolitik jangan terjun berpolitik tapi cukup paham tentang politik karena politik dunia yang cukup “keras”.
  5. Dalam sambutan Ketua BPU-PPII yaitu KH. A. Cholil Ridwan, mengingatkan perjuangan para pendiri partai Masyumi, keimanan, kesederhanaan dan kejujuran mereka menjadi syarat wajib setiap calon pengurus Partai Masyumi jika ditakdirkan didirikan. Sampai pengurus yang merokok pun akan dipecat karena merokok itu haram. KH. A. Cholil Ridwan mengingatkan kisah Rasulullah ketika berjuang “Apakah ada ulama ulama kita pernah kelaparan seperti Rasulullah yang mengganjal perutnya dengan batu karena kelaparan?” , peringatan ini KH. Cholil ingatkan untuk jangan gadaikan aqidah demi jabatan, uang dan kekuasaan. Beliau mewakafkan dirinya untuk pendirian partai ini. Pengurus partai itu harus mukmin tidak cukup muslim. Untuk anggota dan simpatisan cukup Muslim sudah sah tapi pengurus partai Mukmin adalah wajib karena ayatnya hanyalah orang beriman yang bersaudara (Innamal Mu’minuna Ikhwatun) bukan menggunakan orang yang ber-islam. Oleh sebab itu pengurus partai wajib mengaji dan menuntut ilmu dengan majlis syuro secara rutin sehingga keimanannya tetap terjaga. Sehingga yang namanya pengurus keluarganya harus sudah beres termasuk istri dan anak-anak perempuannya wajib berjilbab
  6. Do’a pembukaan dibacakan oleh KH. AbdulRasyid Abdullah Syafi’I seraya mengingatkan permasalahan umat Islam di India dan mendoakan mereka.
  7. Acara urun rembug dimoderatori oleh Dr. Ahmad Yani dengan pembicara yang hadir yaitu Dr. Abdullah Hehamahua, Prof. Dr. H. Laode Kamaluddin, Prof. Fuad Amsyari, PhD, Bapak Taufiq Ismail, Babe Ridwan Saidi, Ustad Zaitun Rasmin (menitipkan pesan), Dr. Musni Umar, Dr. Joko Edhi, Drs. Lukman Hakiem, Dr. MS. Ka’ban, Eggi Sudjana, Ustadzah Nurdiati Akma, Chaerul Anas Suhaidi, ST
  8. Babe Ridwan Saidi mengingatkan Nama masyumi itu sejarah besar jadi harus hati hati dalam penggunaan.
  9. Bachtiar Chamsjah mengingatkan masalah kepemimpinan ummat yang harus konsisten antara mulut dan perbuatan. Kemudian system pemilihan pengurus harus berdasarkan pilihan majlis syuro bukan dibuka bebas oleh peserta kongres partai yang membuat partai jadi rusak.
  10. Fuad Amsyari menekankan partai politik bukan seperti mendirikan kampus yang harus didahului penelitan yang kompleks/”njlimet”, ketika masyrakat butuh otomatis bisa langsung berdiri, lebih bagus menjadi oposisi jika kalah sehingga tidak menggadaikan jabatan dan jangan mau mendukung pemimpin sekuler karena akan terus jadi pendorong mobil mogok. Pemimpin partai Islam harus disiapkan untuk masyarakat yang plural sehingga ada solusi.
  11. Taufiq Ismail setuju untuk gunakan nama masyumi karena punya akar sejarah dan tinggal terus sosialiasai. Karena semakin nama itu diulang ulang maka semakin mendapat dukung
  12. Chaerul Anas Suhaidi menekankan pentingnya penggunaan Aplikasi digital untuk memanajemen organisasi partai dan pendanaan partai. Partai ini harus bebentuk digital party. Selain itu aplikasi akan digunakan untuk marketplace, payment gateway para anggota partai. Jika anggota Masyumi sekitar 1 juta orang saja, maka setiap bulan akan punya dana operasional partai sekitar 10 Milyar sehingga partai tidak tergantung dengan “bohir” siapapun. Tapi semua asset milik majlis syuro sehingga majlis syuro benar benar berkuasa dan pengurus hanya menjalankan perintah majlis syuro.
  13. Prof Dr. Laode M Kamaluddin juga menekakan pentingnya merekrut pengurus partai yang punya talenta seperti millennial zaman sekarang. penggunaan big data dan artificial intelligent (AI) dalam manajemen partai sehingga muktamar pun nanti tidak perlu datang, cukup dari rumah sehingga tidak mengeluarkan biaya. Juga harus dipikirkan bagaiman model kepemimpinan antara majlis syuro yang kolektif kollegial dan model ke-imam-an seperti istilah imam besar, apakah bisa dikompromikan sehingga bisa saling mengisi.
  14. Nurdiati Akma menjelaskan tentang potensi “emak-emak” yang dapat menjadi kekuatan partai. Harus ada kanalisasi semangat emak-emak untuk kebaikkan bangsa ini.
  15. Dr. Musni Umar melihat kondisi Indonesia sudah memprihatinkan dan jika tidak ada usaha usaha untuk perubahan maka bangsa ini akan semakin terpuruk. Maka parpol yang ideologis menjadi salah satu upaya merubah bangsa ini. Politisi dari partai yang ada sekarang tidak berdaya dengan kerusakan yang ada sekarang, semuanya kurang menunjukkan suaranya untuk memperbaiki keadaan yang ada.
  16. Dr. Joko Edhi menekankan kalau partai mau besar jangan heterogen, pengurusnya harus homogen dalam ideologi, dia mecontohkan ketika di partainya yang lama ketika pengurus punya ideologi heterogen maka akan mengakibatkan kesulitan dalam berjuang karena tidak jelas partai mau berjuang untuk tujuan / ideologi apa.
  17. Lukman Hakiem menjelaskan tentang kehebatan Partai Masyumi dulu walau berumur singkat tapi sangat dikenal dan pesan pesan partai bisa sampai kedesa –desa karena kemampuan pidato dan menuliskan apa yang dipidatokan dari para pengurus partai masyumi. Kemampuan literasi ini membuat nama Masyumi mendapat dukungan yang kuat, kalau masyumireborn mau besar, semua pengurusnya harus punya kemampuan seperti ini.
  18. Eggi Sudjana menekankan pentingnya hukum Islam harus tegak, Jika Presiden dan DPR adalah dari pemimpin yang  beriman maka mudah saja menjadikan syariat Islam tegak di Indonesia dalam bingkai NKRI, Pancasila dan UUD 1945.
  19. Dr. MS Ka’ban menjelaskan makna Masyumi Reborn yang berarti semangat untuk menghidupkan nilai nilai Masyumi dalam kehidupan berbangsa kita kembali yang sudah melenceng jauh dari cita cita pendiri bangsa kita.
  20. Dr. Abdullah Hehamahua menjelaskan tentang perlunya syuro dalam melahirkan partai yang baru ini sehingga merasa dimiliki oleh umat Islam, membawa nama besar Masyumi harus berkonsekuensi dengan karakter para pengurus masyumi yang harus cerdas, berani, jujur dan sederhana termasuk tidak merokok.
  21. Ustad Zaitun Rasmin menitipkan pesan yang hendak disampaikan pada forum karena harus beranjak terlebih dahulu karena ada acara lain, beliau menitipkan pesan agar pembentukan partai ini tidak terburu buru tapi punya time schedule yang jelas dan dikerjakan secara sistematis. Kaderisasi harus diutamakan karena tanpa kaderisasi maka kader kader ideologis sulit didapatkan.
  22. Acara ditutup dengan kesimpulan bahwa para peserta segera mendata siapa saja jaringan keluarga besar masyumi di daerah daerah yang berminat untuk bergabung dengan MasyumiReborn sehingga bisa mempercepat proses pemenuhan infrastruktur calon pengurus partai yang akan dibentuk dengan catatan bahwa panitia hanya bertugas mencari orang orang terbaik dari ummat untuk dijadikan pengurus partai sehingga panitia tidak boleh ada niat untuk mau berkuasa, tetapi panitia bisa juga menjadi pengurus partai jika dianggap layak oleh majlis syuro (yang diisi oleh para ulama dan tokoh yang ikhlas dan istiqomah dalam perjuangan umat) melalui mekanisme investigasi dan alat ukur yang dimiliki oleh majlis syuro. Sehingga hanya orang orang terbaik dari umat saja lah yang layak menjadi pengurus partai / pimpinan partai sehingga partai mendapat kepercayaan dari umat.

Demikianlah resume yang kami buat untuk dapat menjadi informasi umat Islam, khususnya keluarga besar, zuriyah dan pecinta Masyumi. Cukuplah Allah sebaik baik pelindung dan penolong.

Jakarta, 12 Rajab 1441 H
          07 Maret 2020

ttd.

  ( Taufik Hidayat )
Sekretaris BPU-PPII

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *